Senin, 16 Mei 2016

Mengenal Macam-Macam Distorsi Lensa

Dalam fotografi ada dua jenis distorsi yaitu distorsi optik dan perspektif. Kedua distorsi ini menghasilkan semacam deformasi gambar, ada yang ringan dan ada juga beberapa yang sangat terasa.

Distorsi optik tidak lain disebabkan oleh desain optik lensa, oleh karena itu sering disebut "distorsi lensa". Sedangkan distorsi perspektif disebabkan oleh posisi kamera yang relatif terhadap subjek atau dengan posisi subjek dalam bingkai (frame) gambar.

Pengetahuan ini juga penting untuk diketahui agar Anda dapat membedakan beberapa jenis distorsi dan mengidentifikasinya. Dengan artikel ini saya akan coba menjelaskan setiap jenis distorsi secara rinci, dengan ilustrasi dan contohnya.

1. Distorsi Optical

Dalam fotografi, distorsi umumnya disebut sebagai penyimpangan optik hingga terjadinya deformasi dan membungkukkan garis lurus secara fisik dan membuatnya tampil melengkung (ke dalam atau ke luar) pada gambar, dan distorsi seperti ini juga sering disebut sebagai "curvilinear (lengkung)". Distorsi optik terjadi akibat dari desain optik itu sendiri, di mana ketika elemen lensa khusus digunakan untuk mengurangi bulatan dan penyimpangan lainnya. Singkatnya, distorsi optik adalah kesalahan lensa.

Ada tiga jenis distorsi optik yang dikenal secara umum yaitu barrel, pincushion, mustache. Mari kita lihat masing-masing distorsi secara detail, dimulai dari lensa dengan nol distorsi:


Sangat jarang ada lensa yang tidak memiliki distorsi, karena sebagian besar lensa mengalami setidaknya satu jenis distorsi. Lensa yang sangat baik memiliki elemen lensa yang secara signifikan mengurangi distorsi, dan itu tidak terlihat oleh mata kita. Banyak lensa zoom terutama superzooms seperti Nikon 18-200mm VR memiliki dari beberapa jenis distorsi seperti barrel dan pincushion pada panjang rentang focal yang berbeda.

1.1. Distorsi Barrel

Ketika garis lurus melengkung ke luar dan di bentuk per barel, maka jenis penyimpangan yang mirip "cembung" inilah yang disebut "distorsi barrel". Distorsi ini sering terlihat pada lensasudut lebar (wide-angle), dan distorsi barrel ini terjadi karena bidang pandang lensa yang jauh lebih luas dari ukuran sensor gambar, oleh karena itu perlu diperas untuk menyesuaikannya. Akibatnya, maka terjadilah garis lurus yang tampak melengkung ke luar, terutama pada bagian dekat tepi frame. Berikut adalah contoh dari distorsi barrel yang kuat:


Perhatikan, pada gambar di atas garis yang lurus berada di tengah frame dan hanya mulai membungkuk jauh dari pusat frame, kemudian terjadi perbesaran menurun menuju sudut.

Distorsi barrel biasanya dijumpai pada kebanyakan lensa sudut lebar (wide-angle), baik itu lensa fix (prime) maupun lensa zoom yang memiliki focal length relatif pendek. Tingginya distorsi dapat bervariasi, tergantung pada jarak kamera ke subjek. Bahkan lensa prime standar 50mm berpotensi dapat menghasilkan distorsi barrel pada jarak subjek yang dekat. Distorsi barrel dapat menurun secara signifikan dengan menggunakan kompensasi oleh elemen optik, tapi untuk benar-benar menghilangkan distorsi tersebut adalah hampir mustahil. Beberapa lensa seperti Nikon 14-24mm f/2.8G memiliki sejumlah elemen kompensasi distorsi, sehingga ini manambah berat lensa maupun ukuran lensa. Inilah sebabnya mengapa lensa wide-angle biasanya lebih besar dan lebih berat dari lensa standar / lensa normal.

1.2. Distorsi Pincushion

Distorsi pincushion adalah kebalikan dari distorsi barrel yaitu garis lurus melengkung ke arah dalam dan terlihat seperti "cekung". Jenis distorsi ini biasanya terlihat pada lensa tele, dan hal itu terjadi karena pembesaran gambar meningkatkan bagian menuju tepi bingkai dari sumbu optik. Pada distorsi ini, bidang pandang lebih kecil dari ukuran sensor gambar dan dengan demikian perlu "ditarik" untuk menyesuaikannya. Akibatnya, garis lurus tampak ditarik ke dalam seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:


Distorsi pincushion ini juga merupakan penyimpangan yang sangat umum, terutama pada lensa zoom tele. Untuk lensa tele super mahal telah dipasangi elemen kompensasi yang dapat secara signifikan mengurangi distorsi pincushion ini, tetapi kebanyakan konsumen dan bahkan lensa zoom tele kelas pro seperti Nikon 80-400mm VR juga masih menderita distorsi pincushion. Bahkan, distorsi pincushion bisa sangat berat pada lensa kelas bawah.

Perlu Anda ketahui bahwa sebagian besar lensa zoom sapujagad (gabungan wide dan tele) biasanya memiliki distorsi barrel pada focal length terpendek, kemudian secara bertahap melakukan transisi ke distorsi pincushion menjelang focal length terpanjang. Sebuah contoh untuk kasus sperti itu bisa ditemui pada lensa sapujagad Nikon 18-300mm VR, yang dimulai dengan distorsi barrel yang kuat di 18mm, lalu mulai beralih ke distorsi pincushion pada 28mm dan tetap seperti itu sampai 300mm.

Sama seperti distorsi barrel, distorsi pincushion juga dapat dengan mudah diperbaiki menggunakan software post-processing seperti Lightroom dan Photoshop. Informasi lensa akan terbaca di Lightroom dan Camera RAW memiliki kemampuan untuk benar-benar menghilangkan distorsi ini dengan baik.


1.3. Distorsi Mustache

Paling buruk di antara jenis distorsi adalah distorsi mustache, yang kadang-kadang saya sebut distorsi "bergelombang". Pada dasarnya distorsi ini merupakan kombinasi dari distorsi barrel dan distorsi pincushion. Jika pada kedua distorsi sebelumnya garis tengah frame dalam kondisi lurus atau normal, sedangkan pada distorsi mustache ini garis tengah justru yang mengalami penyimpangan seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini:


Ini adalah alasan mengapa distorsi mustache sering disebut sebagai distorsi "kompleks", karena karakteristiknya memang kompleks dan bisa sangat sulit untuk ditangani. Sementara jenis distorsi yang berpotensi tetap, sering membutuhkan software khusus. Anda tidak bisa hanya menggandalkan bantuan Lightroom dan Photoshop pada distorsi ini, kecuali profil lensa dengan distorsi tersebut sudah dibangun untuk memerangi distorsi tersebut. Jika Anda mencoba menangani distorsi ini seperti menangani jenis barrel atau pincushion , hasilnya akan malah membuat sudut-sudut melengkung lebih ekstrim bahkan distorsinya akan lebih kuat menuju bagian pusat frame, atau singkatnya distorsi jadi "lebih parah".

Sejumlah lensa tua, serta beberapa lensa modern memiliki distorsi mustache. Sebagai contohnya bisa Anda temui pada lensa Nikon 18-35mm f/3.5-4.5D, yang menunjukkan kasus lebih buruk untuk distorsi mustache.

Lensa Rectilinear (Bujur Sangkar) dan Lensa Curvilinear (Lengkung)

Ada beberapa lensa dengan optik yang dirancang untuk menjadi "rectilinear (bujur sangkar)", seperti Nikon 14mm f/2.8D dan Canon EF 14mm f/2.8L II USM, di mana lensa ini menghasilkan garis lurus tanpa menekuk (objek terlihat sesuai penglihatan manusia). Tapi ada pula lensa lain seperti "fisheye" yang dirancang untuk menjadi "curvilinear (lengkung)".

Lensa bujursangkar umumnya meregangkan objek dan membuatnya terlihat sama seperti yang dilihat oleh mata, khususnya terhadap pada tepi frame. Sedangkan lensa lengkung justru tidak meregangkan apa-apa, tetapi malah sangat mendistorsi gambar dengan membuat garis lurus menjadi melengkung. Lihatlah contoh gambar berikut ini yang menunjukkan perbedaan antara lensa rectilinear (bujur sangkar) dan lensa curvilinear (lengkung):


Seperti yang Anda lihat, subjek pagar pada gambar sebelah kiri tampak melengkung karena itu difoto menggunakan lensa fisheye. Sementara gambar di sebelah kanan difoto menggunakan lensa bujursangkar dan hasilnya pagar terlihat lurus dan alami, seperti yang terlihat oleh mata manusia.

Perhatikan lagi gambar di atas sebelah kanan, ukuran pagar terlihat besar di depan frame dan semakin kecil meruncing pada jarak yang semakin jauh, inilah yang disebut sebagai distorsi perspektif. Dan ini tidak ada hubungannya dengan distorsi optik.



2. Distorsi Perspektif

Seperti yang saya katakan di atas, jenis distorsi lain yang sering terlihat dalam gambar adalah distorsi perspektif. Ini berbeda dengan distorsi optik dan tidak ada hubungannya dengan optik lensa, dan dengan demikian distorsi perspektif bukan pula kesalahan lensa. Ketika kita memproyeksikan ruang tiga dimensi menjadi gambar dua dimensi, maka subjek yang jaraknya terlalu dekat dengan kamera akan tampak membesar (terdistorsi oleh jarak), bila dibandingkan dengan subjek yang jauh dari kamera. Ini adalah kejadian yang dianggap normal dan sesuatu yang bisa Anda buktikan menggunakan mata sendiri.

Sebagai contoh, cobalah Anda memotret anak kecil dekat bagian kepala, maka hasilnya kepala akan terlihat membesar sedangkan bagian tubuh sampai kaki terlihat mengecil seperti meruncing. Perhatikan gambar di bawah ini:


Foto di atas saya ambil menggunakan lensa dengan focal length 18mm, perhatikan distorsinya.

Kasus ini tampaknya membingungkan banyak fotografer tentang hubungan antara focal length dengan distorsi perspektif. Anda mungkin pernah mendengar beberapa fotografer mengatakan bahwa untuk memotret subjek manusia harus menggunakan focal length yang cukup panjang atau tidak hasilnya akan terdistorsi akibat focal length yang sangat pendek. Sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa pernyataan ini sebagian besar adalah palsu. Selain lensa fisheye, semua lensa memiliki perspektif yang sama dan yang menjadi penyebab distorsi perspektif adalah jarak kamera ke subjek yang sangat menentukan terjadinya distorsi, dan bukan karena focal length. Berikut contoh lainnya untuk kasus distorsi perspektif:


Foto di atas memang bukan milik saya. Tapi subjek mobil terlihat benar-benar terdistorsi, karena saat memotret ini sang fotografer berdiri sangat dekat dengan mobil dengan menggunakan lensa wide-angle Nikon 14-24mm. Anda bisa melihatnya sendiri kalau bagian kiri mobil besarnya tidak proporsional.

Kasus lainnya tentang distorsi perspektif

Banyak produsen yang melengkapi lensa mereka dengan fitur "perspective control" atau "tilt-shift" agar lensa bisa menghadapi distorsi pada situasi tertentu. Tapi hasilnya ternyata tidak wajar, yang maksudnya bahwa objek yang dihasilkan oleh lensa seperti itu berbeda dengan objek yang terlihat langsung oleh mata kita sendiri, dan itu sangat terasa ketika kita melihatnya dari sudut rendah (low-angle). Sebagai contoh perhatikan gambar di bawah ini:


Kedua gambar di atas diambil dari sudut rendah yang sama. Gambar sebelah kiri diambil menggunakan lensa tanpa fitur kendali perspektif dan terlihat sesuai fakta di lapangan, sedangkan gambar sebelah kanan menggunakan lensa dengan fitur kendali perspektif (perspective control atau tilt-shift).

Kesimpulannya bahwa distorsi perspektif lebih banyak diakibatkan oleh jarak antara kamera ke subjek, dan juga bisa dipengaruhi oleh pemilihan sudut pengambilan gambar (angle). Namun fakta lainnya juga menunjukan tingkat distorsi perspektif juga didukung oleh distorsi optik lensa rectilinear (bujur sangkar) dengan sudut ultra-wide.

Mengenal Komposisi Dalam Fotografi

Pertama-tama mari kita pahami terlebih dahulu definisi umum komposisi. Istilah "komposisi" tidak hanya berlaku untuk seni visual, tetapi juga untuk musik, tari, sastra dan hampir semua jenis seni lainnya. Dalam konteks tertentu, seperti menulis, istilah komposisi mungkin tidak banyak digunakan, tetapi hanya saja tetap diberlakukan. Secara umum, istilah "komposisi" memiliki dua karakter terkait maknanya.

Pertama dan yang terpenting, "komposisi" menggambarkan penempatan objek relatif dan elemen dalam sebuah karya seni. Hasilnya komposisi menjadi aspek kunci dari sebuah karya seni yang baik.

Seorang seniman harus bisa memberikan komposisi yang baik pada karyanya demi menarik banyak perhatian. Sedangkan sebuah komposisi yang baik itu, salah satunya harus memiliki rinci yang cukup. Terlalu sedikit elemen bisa saja mengurangi detail sebuah karya seni. Begitupula sebaliknya, terlalu banyak elemen bisa sangat mengganggu juga.

Komposisi yang baik membutuhkan keseimbangan yang baik. Dan cara terbaik untuk memastikan semua elemen yang dibutuhkan dapat hadir dalam karya Anda yaitu dengan terlebih dahulu menghadirkan ide atau cerita yang ingin Anda sampaikan lewat karya seni Anda. Dan jika itu sudah terlaksana maka selanjutnya Anda akan tahu elemen-elemen apa dan yang mana saja yang Anda butuhkan untuk membentuk sebuah komposisi yang baik untuk karya Anda.
Dalam beberapa kasus, komposisi dapat berarti karya seni itu sendiri dan merupakan sinonim untuk istilah tersebut. Misalnya, ketika berbicara tentang musik, maka yang termasuk bagian dari komposisinya adalah instrumen-instrumen yang digunakan untuk menciptakan musik tersebut. Dan instrumen itulah yang menjadi elemennya. Misalkan: instrumen piano dimainkan di awal lagu dengan durasi sekian, sedangkan instrumen gitar dimainkan sebanyak 2x yaitu ditengah dan akhir lagu. Dan instrumen tersebutlah yang berperan menjadikan musik itu terdengar enak ditelinga. Begitupula dengan fotografi.


Apa Itu Komposisi Dalam Fotografi?

Setelah mengetahui definisi umum istilah "komposisi" di atas, seharusnya Anda tidak terlalu sulit untuk mencari tahu maknanya dalam seni fotografi. Sederhananya bahwa menciptakan sebuah komposisi dalam fotografi bisa diartikan dengan memilih objek, mengatur dan menyusun subjek yang diperlukan untuk menyampaikan kesan visual atau cerita dari gambar yang Anda ciptakan. Sedangkan subjek dan objek itulah yang menjadi elemen dalam komposisi sebuah gambar atau foto.

Elemen dari sebuah komposisi foto dalam fotografi tidak harus berupa subjek benda melainkan bisa juga elemen warna, atau air maupun langit (awan, bintang, bulan, matahari) atau bahkan makhluk hidup.

Komposisi dalam fotografi ada yang terbentuk dengan sendirinya atau bisa Anda ciptakan dengan sengaja sesuai konsep Anda. Sedangkan komposisi yang terbentuk dengan sendirinya terkadang masih perlu ditambah beberapa elemen lagi.

Penjelasan Crop Factor: Pengaruh Crop Factor Terhadap Focal Length Lensa


Pelajaran selanjutnya bagi Anda yang pemula bahwa, jika sebuah lensa wide-angle (sudut lebar) milik kamera film 35mm / full-frame dipasang pada kamera crop sensor, maka jangkauan lensa "tidak selebar" pada kamera full-frame, karena focal length lensa akan berubah naik. Dan karena bertambahnya focal length tersebut maka Anda bisa membayangkan sendiri bagaimana jadinya bila lensa tele milik full-frame dipasang pada kamera crop sensor? Jangkauan lensa akan semakin jauh.


Intinya, jika Anda menggunakan lensa milik full-frame ke kamera crop sensor maka focal length akan bertambah. Dan sebaliknya, jika lensa milik crop sensor dipasang pada kamera full frame maka focal length akan berkurang.



Sekarang mari kita lihat perubahan focal length dari kamera film 35mm / full-frame ke kamera crop sensor dengan crop factor yang berbeda-beda.

Anda bisa melihatnya sendiri. Lensa 200mm full-frame bila dipasang pada kamera crop sensor dengan crop factor 2.7x seperti Nikon CX, maka focal length akan berubah menjadi 540mm. Ini seperti lensa super tele.


Apakah perubahan focal length ini menguntungkan kedua jenis kamera?



Jawabannya "belum tentu". Bertambahnya focal length pada lensa di kamera crop sensor memang menguntungkan dari sisi jangkauan jarak jauh, tapi efeknya akan menurunkan besaran max. aperture atau diafragma lensa. Artinya ini akan mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke kamera. 



Sedangkan berkurangnya focal length pada lensa di kamera full-frame "yang dikira dapat membuat lensa bertambah lebar", justru itu akan menimbulkan vignetting (bayangan hitam di sudut-sudut frame) dan efeknya akan semakin terasa.


Jenis Lensa Untuk Kamera Full-Frame dan Crop Sensor

Pada produsen Canon, ada lensa yang diberi label "EF" (Electro Focus) yang didesain untuk kamera full-frame milik Canon. Lensa ini bisa juga digunakan pada body Canon crop sensor (APS-C), tanpa menggangu komunikasi sistem antara lensa dengan kamera, seperti auto-focuslensa yang masih bisa bekerja dengan normal.

Sedangkan lensa Canon berlabel "EF-S" (Electro Focus Small) didesain untuk kamera (APS-C) milik Canon. Dan sebaliknya, lensa ini juga bisa digunakan pada body full-frame milik Canon tanpa ada kendala komunikasi sistem.

Kedua jenis lensa Canon di atas dapat bertukar tempat karena "mount" semua kamera pada umumnya adalah sama. Itu yang saya ketahui tentang lensa Canon, dan sepertinya produsen lain seperti Nikon, Sony, Pentax, dll, juga memperbolehkan lensa mereka melakukan hal yang sama, hanya saja saya belum membuktikan apakah itu dapat mempengaruhi komunikasi sistem atau tidak. Karena ada sumber yang mengatakan bahwa lensa Nikon full-frame jika dipasang pada body crop sensor miliknya dapat mengakibatkan tidak bekerjanya auto-focus pada lensa.

Berikut daftar label lensa untuk kamera crop sensor dari produsen lensa yang berbeda-beda:

  • Nikon: DX
  • Canon: EF-S, EF-M
  • Sony / Konica Minolta: DT, E
  • Pentax: DA
  • Samsung: NXSigma: DC
  • Tamron: Di II
  • Tokina: DX


Ukuran Lensa dan Ukuran Sistem

Coba Anda perhatikan gambar (pemandangan) pertama di posisi paling atas. Gambar tersebut sebagai ilustrasi untuk mengambarkan perbedaan "jangkauan sensor" mulai dari format film 35mm / full-frame sampai ke crop sensor (APS-C / DX, Micro Fourd Thirds, 1" / CX). Dari gambar di atas pula dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin kecil ukuran sensor maka semakin banyak bagian dari gambar yang semakin dipotong. Itulah perbedaan signifikan antara full-frame dengan jenis crop sensor.

Apakah ini menjadi kekurangan untuk crop sensor?

Sebenarnya kurang bijak jika kita berpendapat sepert itu, karena mengingat harga kamera crop sensor masih sangat terjangkau, sehingga wajar jika itu sebanding dengan spesifikasinya yang tidak mungkin setara dengan full-frame dengan harganya yang lebih mahal.

Namun dari pihak produsen, mereka akhirnya menyadari bahwa ada "keuntungan" dengan menciptakan sensor yang lebih kecil yaitu, mereka bisa berhemat dengan membuat lensa yang lebih kecil juga dan tidak memerlukan banyak elemen kaca. Ini menjadi trobosan baru saat itu untuk desain lensa yang lebih kompak dan ringan di era DSLR. Maka saat itu lahir lensa pertama dengan ukuran lebih kecil dan ringan, kemudian teknologi berkembang sampai ke generasi saat ini yaitu "mirrorless", dengan lensanya yang lebih kompak dan ringan lagi.

Itulah penjelasan saya tentang crop factor. Tidak perlu saya menuliskan secara rinci apa keunggulan dan kekurangan dari kamera crop sensor dan full-frame. Karena dengan menyimak penjelasan artikel sebelumnya dan artikel ini, Anda sudah dapat membuat kesimpulan sendiri tentang hal itu. Namun tetap saja, kamera full-frame adalah yang paling baik secara kualitas dan tidak heran jika harganya jauh lebih mahal dari kamera crop sensor seperti APS-C.

Penjelasan Crop Factor: Mengetahui Perbedaan APS-C dan Full-Frame

Mungkin sebagian dari Anda yang baru mengenal fotografi pernah mendengar tantang "crop factor". Atau bisa saja Anda belum paham seperti apa kamera berformat APS-C atau full-frame. Artikel ini akan membahas semua itu jadi silahkan simak baik-baik. 

Sebelum era kamera digital, kamera berformat film 35mm hadir terlebih dahulu yang juga dikenal sebagai SLR (Single Lens Refex). Dan jika lensa 50mm digunakan pada jenis kamera film SLR, maka yang tampak menurut bidang pandang (field of view) pada kamera sama seperti apa yang kita lihat, sehingga pembahasan tentang lensa yang berbeda focal length akan sangat mudah dimengerti.


 



Karena tantangan teknologi dan biaya produksi yang tinggi, sehingga untuk membuat ukuran sensor kamera digital yang cocok dengan ukuran film 35mm "tidaklah mudah". Oleh sebab itu, produsen kamera memulainya dengan menciptakan sensor yang lebih kecil pada kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex). Selanjutnya, untuk memungkinkan kelancaran transisi dari era film ke digital maka produsen berupaya menjaga kecocokan lensa dengan mount kamera, baik itu sekelas film 35mm atau kamera dengan sensor lebih kecil, sehingga mereka yang sudah terlanjur memiliki body kamera film 35mm tak perlu khawatir tentang pembelian lensa dan aksesoris kamera yang akan digunakan meskipun lensa itu milik kamera crop sensor.

Akan tetapi, menciptakan sensor yang lebih kecil dari format film 35mm ternyata menimbulkan masalah baru yaitu, apa yang terlihat menurut bidang pandang kita dengan bidang pandang kamera (field of view) adalah terlihat berbeda atau lebih sempit menurut bidang pandang kamera. Hal ini dikarenakan sudut-sudut frame gambar telah mengalami "cropped" atau dipotong. 


Pada gambar kamera di atas, ada sebuah lingkaran yang disebut "mount" yaitu tempat masuknya lensa ke body kamera. Selain sebagai mount lensa, ini juga disebut "lingkaran gambar" dan dalam hal ini saya sebut sebagai "frame". Sedangkan area persegi, baik yang garis warna hijau maupun merah adalah sensor kamera.

Dari gambar di atas kita sudah bisa melihat perbedaannya. Jadi, jawaban sederhana untuk perbedaan APS-C dengan full-frame adalah jika luasnya sensor meliputi frame (lingkaran gambar / mount) maka itulah yang disebut sensor "full-frame". Tapi jika itu hanya mencakup sebagian kecil dari frame, itulah yang disebut "crop" sensor seperti pada kamera APS-C. 

Sebagai catatan, bahwa APS-C memang bagian dari jenis kamera crop sensor, dan kamera crop sensor bukan berarti APS-C saja. Masih banyak kamera lain selain APS-C yang memiliki ukuran sensor kecil seperti APS-H, Foveon, Four Thirds System, dll. Dan semua itu juga menjadi bagian dari jenis kamera crop sensor.

Berikut contoh perbedaan ukuran fisik sensor pada kamera full-frame dengan kamera crop sensor:



Kedua kamera Sony di atas memliki ukuran mount yang sama tapi tidak dengan ukuran fisik sensor. Kamera Sony A7 II (sebelah kiri) adalah full-frame, sedangkan Sony A6000 (sebelah kanan) adalah crop sensor.

Secara umum, semua sensor kamera full-frame memiliki ukuran fisik yang sama seperti kamera film 35mm yaitu 36mm x 24mm, sedangkan sensor yang lebih kecil memiliki ukuran yang bervariasi tergantung pada sistem dan produsennya. Berikut adalah ilustrasi untuk berbagai ukuran sensor, yang bersumber dari Wikipedia:


Sebagai pengetahuan tambahan, perlu juga Anda ketahui bahwa beberapa produsen kamera memberikan indetitas tertentu untuk mewakili sensor full-frame dan crop sensor pada kamera mereka. Seperti Nikon yang memberikan titel "FX" untuk jenis kamera full-frame dan "DX" untuk kamera crop sensor. Sedangkan produsen lainnya masih menggunakan julukan 35mm dan APS-C.

Coba perhatikan kembali gambar ilustrasi pertama di atas (gambar ke dua), dan perhatikan masing-masing hasil foto dari APS-C dan full-frame. Terlihat jelas kalau kedua foto tersebut berbeda secara drastis. Foto yang diambil menggunakan crop sensor terlihat sempit atau seperti "diperbesar", sedangkan foto yang diambil dengan full-frame terlihat lebih luas. Meskipun Anda menggunakan lensa dan focal length yang sama, tetap saja hasilnya akan berbeda. Dan itu sumbernya bukan pada lensa tapi pada pengaruh sensor dari kedua jenis kamera ini yang dasarnya memang berbeda.


Apa itu Crop Factor?

Agar Anda tidak keliru, saya pertegas kalau definisi crop factor berbeda dengan crop sensor. Bila crop sensor adalah sebutan untuk sensor yang mengalami cropping, maka "crop factor" adalah rasio untuk ukuran sensor film 35mm atau full-frame. Dan crop factor ini hanya dimiliki oleh kamera crop sensor.

Lalu apa fungsi crop factor?

Karena crop factor hanya dimiliki oleh kamera crop sensor maka fungsinya untuk mengetahuikesetaraan focal length (equivalent focal length) pada kamera crop sensor dengan kamera film 35mm / full-frame dalam menghasilkan bidang pandang (field of view) yang sama. Karena jika kita menggunakan lensa dengan focal length (katakanlah 18mm) pada dua jenis kamera ini maka hasilnya atau bidang pandang yang terlihat pada kedua kamera tersebut akan berbeda. Oleh sebab itu crop factor diperlukan untuk mengetahui "dimana letak kesetaraan" bidang pandang dari kedua kamera ini dari segi focal length. Dan produsen memberikan metode mudah untuk mengetahui itu, berikut contohnya:

Jika Anda memliki sebuah kamera crop sensor katakanlah Nikon DX yang diketahui memiliki crop factor 1.5x. Kemudian kamera tersebut dipasangi lensa wide-angle (sudut lebar) dengan focal length 24mm. Maka rumus untuk mengetahui equivalent focal length yaitu focal length (24mm) x crop factor (1.5x) = 36mm. Ini artinya bahwa bidang pandang (field of view) yang dihasilkan dari focal length 24mm pada kamera crop sensor "setara" dengan bidang pandang yang dihasilkan dari focal length 36mm pada kamera full-frame. Namun jika full-frame juga menggunakan focal length 24mm maka bidang pandang dari kedua jenis kamera tersebut tidak setara lagi atau kata lain hasil full-frame jauh lebih lebar ketimbang hasil kamera crop sensor.

Oleh sebab itu dari segi wide-angle (sudut lebar), itulah yang menjadi salah satu keunggulan kamera full-frame yang mengapa harganya jauh lebih mahal dari harga kamera sekelas APS-C.

Berikut ini adalah daftar beberapa kamera saat ini yang memiliki crop factor yang berbeda-beda:


  • 1.5x Crop Factor: Nikon DX (Coolpix A, D3300, D5500, D7100); Pentax K-5 II; Sony A5100, A6000; Samsung NX1; Fuji X-A1, X-M1, X-E2, X-T1, X-Pro1.
  • 1.6x Crop Factor: Canon Digital Rebel, 70D, 7D Mk II, EOS M2.
  • 2.0x Crop Factor / Micro Four Thirds: Olympus OM-D Series; Panasonic DMC Series.
  • 2.7x Crop Factor: Nikon CX (J4, S2, AW1, V3); Sony RX100 III, RX 10; Samsung NX Mini.



Bagaimana Cara Menghitung Crop Factor Sebuah Kamera Crop Sensor?

Rumus untuk menghitung crop factor dari sebuah kamera crop sensor cukup sederhana. Pertama, ketahui dulu ukuran fisik sensor kamera Anda, lalu kemudian hitung diagonalnya menggunakan teori Pythagoras (² + b² = c²). Berikut adalah contoh tentang bagaimana cara mengetahui crop factor kamera Nikon CX:
  • Ukuran sensor film 35mm / full-frame: 36² + 24² = 1872², sehingga diagonalnya adalah 43,27.
  • Ukuran sensor Nikon CX: 13.20² + 8.80² = 251.68², sehingga diagonal adalah 15.86,
  • Maka crop factorya yaitu 43,27 / 15,86 = 2,73

Dari perhitungan di atas diperoleh jawaban untuk crop factor sensor Nikon CX adalah 2.73x, yang biasanya hanya akan dibulatkan menjadi 2.7x. Mudahkan?

Penjelasan Kode-Kode Pada Lensa Nikon

Jauh sebelumnya saya telah menulis artikel yang menjelaskan arti dari kode-kode dasar yang secara umum ada pada semua lensa. Artikel tersebut sangat berguna bagi pemula yang baru pertama kali menggunakan DSLR. Adapun artikel kali ini juga membahas inti yang sama atau bisa juga dikatakan sabagai "lanjutan" dari artikel pertama tersebut, hanya saja ini lebih spesifik yang mengulas tentang lensa dari produsen Nikon.


Perlu Anda ketahui, bahwa pada dasarnya semua produsen menanamkan fitur yang "kurang lebih" sama pada produk lensa mereka. Hanya saja tiap-tiap produsen memberikan kode / label / keterangan yang berbeda "nama" pada fitur tersebut. Sebagai contoh, fitur "anti-getar" pada lensa dari Canon menggunakan kode "IS (Image Stabilization)" sedangkan Nikon menggunakan kode "VR (Vibra Reduction)", keduanya berbeda nama tapi pada dasarnya memiliki fungsi yang sama yaitu untuk menstabilkan / mengurangi getaran pada lensa.


Mengetahui kode dan keterangan lensa juga penting, mengapa? Karena ini bisa membantu Anda untuk membeli lensa yang sesuai keutuhan Anda dan inipun membantu Anda untuk bisa lebih maksimal dalam menggunakan lensa, khususnya Anda yang menggunakan produk Nikon. Berikut penjelasan beberapa kode dan keterangan yang umumnya ada pada lensa Nikon:

  • AF (Auto Focus)
Secara umum semua lensa modern (bukan Nikon saja) memiliki fitur AF ini yaitu fokus lensa yang dapat bekerja secara auto yang dikendalikan oleh kamera. Tidak seperti lensa jadul yang dimana fokusnya hanya bisa dikendalikan secara manual.

  • AF-D (Auto Focus with Distance Information)
Ada tambahan kode D yaitu Distance Information. Lensa Nikon yang memiliki kode AF-D artinya bahwa lensa tersebut dapat memberikan info tentang jarak dari lensa ke objek / subjek, dan ini juga sangat membantu untuk pemilihan metering yang akan digunakan.

  • AF-S (Auto Focus with Silent Wave Motor)
Lensa Nikon dengan kode AF-S artinya bahwa lensa tersebut memiliki motor dalam "barrel lensa" sehingga sangat berguna bila digunakan pada semua jenis kamera DSLR Nikon yang tidak mempunyai motor tersendiri dalam "body kamera".

  • SWM (Silent Wave Motor)
Lensa Nikon dengan kode SWM artinya bahwa lensa tersebut memiliki kemampuan pergantian fokus secara instan. Maksudnya ketika ingin Anda beralih dari mode auto focus ke manual focus bisa dilakukan dengan cepat yaitu cukup dengan memutar ring fokus (focusing ring), dan tak perlu lagi melalui tombol witch seperti pada lensa biasa.

  • IF (Internal Focusing
Lensa Nikon yang memiliki kode IF ini artinya bahwa lensa tersebut dapat melakukan pencarian fokus dengan cepat, cukup dengan menggerakkan elemen internal tanpa harus menggerakkan barrel lensa. 

  • RF (Rear Focusing)
Lensa Nikon dengan simbol RF ini artinya bahwa lensa tersebut memiliki cara pencarian titik fokus dengan menggerakkan elemen internal pada bagian belakang lensa.

  • G
Lensa dengan kode G (contohnya: Nikon 50mm AF-S f/1.4G) artinya bahwa lensa tersebut tidak memiliki ring untuk mengatur aperture. Hampir semua lensa modern Nikon bertipe G.


  • Micro
Kode ini sama seperti Macro artinya bahwa lensa Nikon tersebut lebih khusus / bisa digunakan untuk memotret subjek jarak dekat atau subjek berukuran mini yang lebih dikenal dengan istilah fotografi Macro.

  • PC-E (Perspective Control with Electronic Diaphragm)
Lensa Nikon dengan kode PC-E ini artinya bahwa lensa tersebut dapat digeser atau dibengkokkan.



  • ED (Extra Low Dispersion)
Lensa Nikon dengan kode ED artinya bahwa lensa tersebut memiliki elemen tambahan untuk meminimalisir terjadinya penyimpangan Chromatic (Chromatic Aberration) pada hasil gambar.

  • DC (Defocus Control)
Lensa Nikon dengan kode DC artinya bahwa lensa tersebut dapat mengontrol kualitas bokeh (background blur) pada hasil gambar.

  • VR (Vibration Reduction)
Lensa Nikon dengan kode VR artinya bahwa lensa tersebut bisa mereduksi getaran atau gerakan tanpa disengaja (hand shake) saat memotret, yang dimana getaran tersebut bisa menyebabkan hasil gambar yang kacau yang terlihat seperti blur pada seluruh objek dalam gambar.
  • SIC (Super Integrated Coating)
Lensa Nikon dengan kode SIC artinya bahwa lensa tersebut mempunyai lapisan lensa yang dapat menghasilkan gambar dengan kualitas lebih baik seperti warna yang lebih bagus.

  • N (Nano Crystal Coat)
Lensa Nikon dengan kode N ini artinya bahwa lensa tersebut memiliki lampisan lensa yang mampu meminimalkan masalah ghosting dan flare sehingga gambar yang dihasilkan jauh bisa lebih jernih tanpa gangguan masalah tersebut.

  • Dx
Lensa Nikon dengan kode DX artinya bahwa lensa tersebut khusus didesain untuk kamera DSLR Nikon berformat "crop sensor" seperti Nikon D3000/D5000/D90/D300s. Namun lensa ini bisa juga digunakan pada DSLR Nikon berformat full-frame, hanya saja akan terjadi beberapa masalah pada gambar.
Hasil gambar untuk lensa nikon DX

Memahami Mode Eksposur Auto, P, S, A, M Pada Kamera


Mode eksposur (exposure mode) adalah pilihan penggunaan yang disediakan pada kamera untuk memotret, sehingga kadang-kadang ada kamera yang menamakan mode ini sebagai "mode pemotretan". Setiap kamera DSLR menyediakan mode eksposur "utama" yang memiliki cara kerja yang sama dalam membentuk eksposur. Sedangkan eksposur itu sendiri singkatnya adalah pencahayaan yang dibutuhkan oleh kamera dalam proses pengambilan gambar, dan eksposur inilah yang nantinya menentukan kualitas pencahayaan pada hasil gambar (entah itu normal, gelap atau terang).

Eksposur dibentuk oleh 3 elemen / pengaturan yang saling bekerjasama yaitu Shutter Speed,Aperture (Diafragma) dan ISO, yang dinamakan sebagai "Segitiga Eksposur (Exposure Triangle)". Jadi kesimpulannya untuk membentuk eksposur caranya tidak lain dengan mengatur 3 elemen tersebut. Oleh sebab itu kita sebagai pengguna dituntut untuk mengetahui dasar kerja 3 elemen di atas agar bisa membentuk eksposur dengan baik untuk hasil gambar yang baik pula.
 
Namun karena tidak semua orang paham cara menggunakan / mengatur eksposur secara manual, sehingga produsen kamera menyediakan mode eksposur yang bekerja secara instan / auto untuk kemudahan dalam mengoperasikan kamera. Dan mode tersebut bekerja seperti apa yang berlaku pada kamera ponsel, yang mana secara instan Anda bisa langsung memotret dan tidak perlu lagi dipusingkan oleh pemahaman eksposur. 

Pada kamera DSLR umumnya ada "5 mode eksposur utama" yaitu mode Auto, P, S, A, M. Bersama 5 mode tersebut terdapat pula pilihan mode lainnya untuk pemotretan khusus sepertiPortrait, Landscape, Close-up, Sports, Fire-Works, Panorama, dll.Mode eksposur ini bisa Anda lihat pada tombol dial khusus untuk mengatur mode eksposur yang disebut sebagai "Mode-Dial".

Pada DSLR Canon, mode eksposur untuk S dan A ditulis dalam simbol yang berbeda yaitu Tvdan Av. Sedangkan mode Auto pada Canon di tulis dengan simbol "A berwarna hijau" dan kadang-kadang juga digambarkan dengan simbol "icon frame warna hijau". Berikut contohnya:
Lalu apakah arti dari Auto, P, S, A, M pada kamera? 

  • Auto Exposure
Dari namanya sudah bisa ditebak bagaimana mode ini bekerja. Ya benar, pada mode ini program memegang kendali penuh atas pengaturan inti pada kamera. Termasuk mengatur eksposur secara "auto" dan beberapa pengaturan penting lainnya, yang semuanya dikendalikan oleh program. Mode ini sangat praktis dan cocok bagi Anda yang baru pertama kali menggunakan kamera. Dengan mode ini Anda tak perlu dipusingkan dengan pemahaman eksposur, dan Anda bisa langsung memotret semudah menggunakan kamera ponsel. Akan tetapi mode auto atau mode lain yang serupa memiliki kelemahan yaitu pengaturan kamera dikendalikan oleh program dan bukan sesuai keinginan kita sebagai pengguna. Sehingga kadang-kadang hasil gambar melenceng atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

  • P = Program
Pada dasarnya mode program ini memliki cara kerja yang sama dengan mode auto di atas.Hanya saja pengguna masih diberi akses untuk menentukan sendiri pengaturan "salah satu" elemen segitiga eksposur yaitu pengaturan ISO. Selain ISO, Anda juga bisa mengatur beberapa pengaturan inti lainnya. Contohnya untuk mode program di DSLR Canon masih memberi akses untuk mengatur White Balance, Picture Style, bahkan Auto Exposure Bracketing. Meskipun demikian, tetap saja mode ini masih terbatas bila digunakan untuk mengembangkan skill fotografi. Karena pengembangan bersama eksposur sangat luas dan selalu menjadi yang utama, sehingga tidak cukup bila hanya mengandalkan ISO untuk proses belajar.

  • S = Shutter Priority
Pada kamera Canon, mode ini ditulis dengan simbol Tv. Pada mode ini Anda bisa mengatur 2 elemen segitiga eksposur yaitu shutter speed dan ISO, sedangkan aperture masih diatur oleh program. Dan karena pengaturan berfokus pada shutter speed sehingga mode ini dinamakanshutter priority. Pada mode ini pengaturan aperture ditentukan secara auto dan disesuaikan berdasarkan nilai shutter speed dan nilai ISO yang Anda gunakan. Jadi, setiap kali Anda merubah nilai shutter speed dan ISO, maka aperture ikut berubah untuk menyusaikan dengan 2 pengaturan tersebut.

  • A = Aperture Priority
Pada kamera Canon, mode ini ditulis dengan simbol Av. Cara kerja mode ini sama seperti mode shutter priority di atas yang mana Anda hanya perlu mengatur aperture dan ISO untuk membentuk eksposur, sedangkan pengaturan shutter speed ditentukan oleh program.

  • M = Manual Exposure
Pada mode ini pengguna memegang kendali penuh atas pengaturan kamera secara keseluruhan. Sederhananya bahwa ini kebalikan dari mode auto. Pada mode manual ini Anda bisa leluasa menentukan nilai shutter speed, aperture dan ISO untuk menghasilkan gambar yang sesuai dengan keingingan Anda. Oleh sebab itu sering dikatakan bahwa eksposur yang baik itu sejatinya diatur secara manual oleh pengguna dan bukan dikendalikan oleh program. Mengapa? Karena akan selalu ada situasi pencahayaan dimana mode auto dan program tidak mampuh menyelesaikan permasalahan pada situasi tersebut. Hanya saja untuk mengoperasikan kamera pada mode manual ini Anda harus memiliki pemahaman dasar eksposur dan mengetahui bagaimana cara shutter speed, aperture dan ISO bekerja dalam membentuk eksposur. 


  • Mode Eksposur Khusus
Selain 5 mode eksposur utama yang umum tersedia di semua kamera DSLR, ada beberapa mode eksposur lainnya yang disediakan untuk pemotretan khusus seperti Portrait, Landscape, Close-up, Sports, Fireworks, Panorama, dll. Setiap kamera dari produsen yang berbeda memiliki mode khusus yang berbeda-beda pula meskipun ada beberapa mode yang sama.

Mode eksposur ini bekerja secara auto dengan maksud memudahkan pengguna untuk menghadapi kondisi pemotretan tertentu. Misalkan, ketika Anda ingin memotret interaksi olahraga katakanlah "sepak bola" yang mana manusia di dalamnya bergerak dengan cepat, sehingga kamera membutuhkan shutter speed yang cepat pula agar bisa menangkap gerakan manusia dengan baik. Hal ini sebenarnya bisa dengan mudah diatasi pada mode manual, hanya karena tidak semua pengguna bisa menggunakan mode manual sehingga produsen memberi solusi dengan menghadirkan mode eksposur khusus, ya contohnya seperti mode "Sports" yang bisa digunakan untuk memotret interaksi olah raga di atas, paham? Begitupula dengan mode khusus lainnya dan kiranya tidak perlu lagi saya jelaskan kegunaan dari masing-masing mode khusus tersebut.

Kamis, 12 Mei 2016

Ilustrasi Penggunaan Aperture, Shutter Speed, ISO

Beberapa ilustrasi hasil dari penggunaan aperture, shutter speed, dan ISO pada nilai tertentu.



1. Aperture / Diafragma

Sesuai gambar ilustrasi di atas, contoh aperture dimulai dari pembukaan terkecil (diwakili nilai terbesar yaitu f/32) sampai ke pembukaan maksimal (diwakili nilai terkecil yaitu f/1.4).

Pada pembukaan aperture atau diafragma terkecil, ruang ketajaman yang dihasilkan sangat luas bahkan hampir tidak terjadi blur pada background. Begitu pula sebaliknya pada pembukaan aperture terbesar, ruang ketajaman terjadi namun hanya sebatas pada area subjek saja dan terjadi blur pada background.

2. Shutter Speed

Sesuai gambar ilustrasi di atas, contoh shutter speed dimulai dari nilai tercepat 1/1000 sampai nilai paling lambat 1/2.

Untuk shutter speed yang sangat cepat mampuh menangkap gerakan subjek yang cepat pula seperti aktivitas olahraga. Teknik ini disebut juga sebagai "membekukan subjek". Sedangkan pada shutter speed lambat tidak dapat digunakan untuk menangkap subjek bergerak cepat. Namun bukan berarti ini harus dihindari. Sebaliknya shutter speed lambat memliki penempatan untuk situasi tertentu bahkan Anda bisa berkreasi dengan shutter lambat. Apakah Anda pernah melihat foto ombak dilaut atau arus air disungai yang terlihat seperti asap? Itulah salah satu kegunaan shutter speed lambat yang menggunakan teknik bulb.

3. ISO

Sesuai gambar ilustrasi di atas, contoh ISO dimulai dari nilai paling rendah yaitu 50 (umumnya 100) dan nilai tertinggi yaitu 25600 (umumnya 32000).

Penggunaan ISO yang aman dan yang sering direkomendasikan adalah 100 - 800. Nilai ISO tinggi di atas itu akan muncul "noise" (bintik-bintik) pada gambar. Semakin tinggi ISO yang Anda gunakan maka semakin keras dan banyak noise yang timbul. Oleh sebab itu harus hati-hati menggunakan ISO.